wa

Cara Bikin QRIS untuk Jualan, Panduan Praktis buat Owner UMKM

September 18, 2026
|
read 5 MIN READ
|
Farisi Abdul Aziz

qris untuk jualan

Bikin QRIS untuk jualan bisa dilakukan lewat aplikasi bank, e-wallet, atau penyedia sistem kasir yang sudah terdaftar sebagai PJSP (Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran) di Bank Indonesia. Prosesnya cuma butuh KTP, NIB atau surat keterangan usaha, dan rekening atas nama usaha. Setelah disetujui, kode QRIS bisa langsung dipakai buat terima pembayaran dari semua aplikasi pembayaran digital di Indonesia, mulai dari GoPay, OVO, Dana, sampai mobile banking.

Kedengarannya simpel. Tapi banyak owner UMKM yang masih mikir dua kali buat pasang QRIS, alasannya macam-macam, dari takut ribet urus dokumen, bingung pilih penyedia, sampai khawatir soal biaya potongan. Artikel ini bakal jelasin step by step cara bikinnya, plus hal-hal yang sering bikin bingung soal biaya dan jenis QRIS.

Kenapa Usaha Kecil Butuh QRIS Sekarang

Coba bayangin pelanggan udah antre di depan kasir, mau bayar, terus bilang "cash-nya kurang, ada QRIS nggak?" Kalau jawabannya tidak, kemungkinan besar dia batal beli atau kabur cari uang tunai dulu. Momen kecil kayak gini yang sering luput dari perhitungan, padahal dampaknya ke omzet nyata.

Data Bank Indonesia mencatat QRIS sudah dipakai oleh sekitar 44,86 juta merchant di seluruh Indonesia, dan hampir seluruhnya, tepatnya 96,68 persen, adalah pelaku UMKM. Ini bukan tren sesaat, ini udah jadi standar cara orang Indonesia bertransaksi sehari-hari. Usaha yang belum punya QRIS pelan-pelan kehilangan pelanggan yang makin jarang pegang uang cash.

Syarat Bikin QRIS untuk Usaha Kecil

Sebelum daftar, siapin dulu berkas-berkas ini biar prosesnya nggak bolak-balik.

  1. KTP pemilik usaha, sebagai identitas utama pendaftaran.
  2. NIB (Nomor Induk Berusaha) dari OSS, atau minimal surat keterangan usaha dari kelurahan kalau belum punya NIB.
  3. Rekening bank atau e-wallet aktif atas nama pemilik atau nama usaha, tempat dana hasil transaksi QRIS akan masuk.
  4. Foto lokasi usaha, biasanya diminta untuk verifikasi bahwa usaha memang beroperasi secara fisik atau online.
  5. Nomor HP aktif yang terhubung ke aplikasi pendaftaran, karena verifikasi umumnya lewat OTP.

Kalau kelima hal ini sudah siap, proses pendaftaran biasanya bisa selesai dalam hitungan hari kerja, bahkan ada penyedia yang memprosesnya dalam 1x24 jam.

Langkah Bikin QRIS Sendiri, dari Nol sampai Bisa Dipakai

Berikut urutan yang paling umum dilakukan pelaku UMKM di Indonesia.

cara bikin qris

Satu hal yang sering diabaikan, kode QRIS sebaiknya dilaminasi atau dipasang di tempat yang gampang dilihat kasir maupun pelanggan. Kode yang kusut atau ketutup barang lain justru bikin proses bayar jadi lebih lama, bukan lebih cepat.

Berapa Biaya Potongan QRIS yang Harus Ditanggung Merchant

Ini bagian yang paling sering ditanyakan, dan jawabannya sedang berubah jadi lebih ringan buat UMKM. Biaya ini disebut MDR (Merchant Discount Rate), yaitu persentase yang dipotong otomatis dari setiap transaksi masuk lewat QRIS.

Aturan standar sebelumnya menetapkan MDR sebesar 0,3 persen untuk kategori usaha mikro dan 0,7 persen untuk usaha kecil, menengah, dan besar. Namun, mulai 1 Oktober 2026, Bank Indonesia memperluas kebijakan MDR QRIS 0 persen untuk memberi keringanan biaya transaksi ke UMKM dan kategori merchant tertentu. Secara rinci, transaksi QRIS hingga Rp500.000 pada merchant usaha mikro tidak dikenakan MDR sama sekali, sementara merchant usaha kecil, menengah, dan besar mendapat MDR 0 persen untuk transaksi hingga Rp100.000. Di atas ambang batas itu, tarif normal tetap berlaku.

Yang penting diingat, biaya MDR ini sepenuhnya tanggung jawab merchant, bukan pelanggan. Menambahkan biaya ekstra ke pembeli saat bayar pakai QRIS adalah pelanggaran aturan Bank Indonesia, jadi jangan sampai kebiasaan ini dipraktikkan di usaha Anda.

QRIS Statis vs QRIS Dinamis, Mana yang Cocok

QRIS statis adalah satu kode QR tetap yang dipasang di kasir, pelanggan yang input sendiri nominal pembayaran saat scan. Cocok buat warung, kafe kecil, atau usaha dengan transaksi manual yang masih dicatat kasir. QRIS dinamis menghasilkan kode QR unik setiap transaksi lewat sistem kasir, nominal sudah otomatis terisi sesuai struk, jadi pelanggan tinggal konfirmasi bayar tanpa perlu ketik manual.

Masalahnya, banyak usaha yang masih pakai QRIS statis padahal transaksinya sudah cukup ramai, akibatnya kasir harus double check nominal manual dan rawan salah input dari sisi pelanggan. Ujung-ujungnya antrean makin panjang di jam sibuk, padahal alasan awal pakai QRIS justru supaya transaksi lebih cepat.

Kenapa OMNI Jadi Cara Paling Praktis Urus QRIS dan Kasir Sekaligus

Kalau volume transaksi sudah mulai padat, jawabannya bukan cuma ganti ke QRIS dinamis, tapi pindah ke sistem yang QRIS-nya sudah menyatu langsung dengan mesin kasir. OMNI POS dibangun buat memangkas urusan itu jadi satu alur saja, dari pelanggan scan sampai laporan penjualan masuk otomatis ke dashboard, tanpa kasir perlu pindah-pindah aplikasi.

Beberapa hal yang bikin OMNI relevan buat usaha yang mulai serius soal payment digital.

  • QRIS dinamis otomatis tersambung ke sistem kasir, nominal terisi sendiri sesuai struk, jadi nggak ada lagi salah input nominal dari pelanggan.
  • Laporan penjualan real time, semua transaksi QRIS, kartu, dan tunai kecatat dalam satu dashboard, jadi nggak perlu rekap manual di akhir hari.
  • Integrasi multi-outlet, kalau usaha Anda sudah punya lebih dari satu cabang, semua data penjualan dan stok tetap bisa dipantau dari satu tempat.
  • Satu sistem buat kasir, payment, dan laporan, jadi owner nggak perlu langganan beberapa aplikasi terpisah yang bikin data tercecer di mana-mana.

Buat usaha yang masih di tahap satu outlet dengan transaksi belum terlalu ramai, QRIS statis biasa memang sudah cukup. Tapi begitu antrean mulai jadi masalah harian, atau Anda mulai buka cabang kedua, di situlah sistem seperti OMNI baru kerasa bedanya, karena semua yang tadinya dikerjakan manual jadi jalan sendiri.

Hal yang Sering Bikin Pendaftaran QRIS Gagal atau Tertunda

Beberapa kesalahan kecil ternyata sering bikin proses verifikasi molor lebih lama dari seharusnya.

  • Nama usaha di dokumen tidak konsisten antara KTP, NIB, dan formulir pendaftaran.
  • Foto lokasi usaha kurang jelas, misalnya diambil dari jauh atau tidak menunjukkan aktivitas usaha.
  • Nomor rekening belum aktif atau berstatus dormant karena lama tidak dipakai transaksi.
  • Kategori usaha salah pilih, misalnya usaha kuliner terdaftar sebagai jasa, sehingga sistem meminta dokumen tambahan.

Kalau salah satu poin di atas terjadi, biasanya proses tetap bisa lanjut, cuma butuh waktu tambahan buat klarifikasi. Jadi sebelum submit, cek ulang semua data biar sekali jalan langsung disetujui.

Saatnya Upgrade dari Sekadar QRIS ke Sistem Kasir yang Lengkap

Pasang QRIS memang langkah awal yang paling mudah dan murah buat mulai terima pembayaran digital. Tapi kalau Anda baca sampai sini karena udah ngerasa capek rekap transaksi manual tiap tutup toko, atau kewalahan pas jam ramai, itu tandanya QRIS sendirian aja udah nggak cukup buat operasional usaha Anda.

OMNI dibuat justru buat titik itu, satu sistem yang nyatuin QRIS, kasir, self-ordering kiosk, dan laporan penjualan jadi satu dashboard, tanpa perlu tambah aplikasi lain. Coba lihat langsung gimana OMNI bisa dipasang di usaha Anda lewat getomni.id, banyak owner UMKM lain yang udah lebih tenang urus toko sejak pindah ke sana.